Tugas : Softskill Kelompok 5
Tentang : Terapi Bermain
Konsep
Terapi Bermain
Santrock (1995: 272) menyatakan bermain peran (role play) ialah suatu
kegiatan yang menyenangkan. Secara lebih lanjut bermain peran merupakan suatu
kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memperoleh kesenangan. Role playing
merupakan suatu metode bimbingan dan konseling kelompok yang dilakukan secara
sadar dan diskusi tentang peran dalam kelompok. Di dalam kelas, suatu masalah
diperagakan secara singkat sehingga siswa dapat mengenali karakter tokoh
seperti apa yang siswa peragakan tersebut atau yang menjadi lawan mainnya
memiliki atau kebagian peran seperti apa. Santrock juga menyatakan bermain
peran memungkinkan anak mengatasi frustrasi dan merupakan suatu medium bagi
ahli terapi untuk menganalisis konflik-konflik anak dan cara-cara mereka
mengatasinya.
Ginnot (1961; dalam Eka, 2008) menyatakan bermain peran diyakini sebagai sarana
perkembangan potensi juga dapat dijadikan sebagai media terapi. Terapi bermain
peran khususnya merupakan pendekatan yang sesuai untuk melakukan konseling
dengan anak karena bermain adalah hal yang alami bagi anak. Melalui manipulasi
mainan, anak dapat menunjukkan bagaimana perasaan mengenai dirinya, orang-orang
yang penting serta peristiwa dalam hidupnya secara lebih memadai daripada
melalui kata-kata.
Bermain pada anak merupakan salah satu sarana untuk belajar. Melalui
kegiatan bermain yang menyenangkan, anak berusaha untuk menyelidiki dan
mendapatkan pengalaman yang kaya, baik pengalaman dengan dirinya sendiri, orang
lain maupun dengan lingkungan di sekitarnya.
Terdapat
lima karakteristik bermain peran, yaitu:
1.
Merupakan
sesuatu yang menyenangkan dan memiliki nilai yang positif bagi anak.
2.
Didasari motivasi yang muncul dari dalam. Jadi anak
melakukan kegiatan itu atas kemauannya sendiri.
3.
Sifatnya
spontan dan sukarela, bukan merupakan kewajiban. Anak merasa bebas memilih apa
saja yang ingin dijadikan alternatif bagi kegiatan bermainnya.
4.
Senantiasa
melibatkan peran aktif dari anak, baik secara fisik maupun mental.
5. Memiliki hubungan sistematik yang
khusus dengan sesuatu yang bukan bermain, seperti kemampuan kreatif, memecahkan
masalah, kemampian berbahasa, kemampuan memperoleh teman sebanyak mungkin dan
sebagainya.
Unsur
- unsur terapi munculnya gangguan, tujuan terapi, peran terapis.
Munculnya gangguan, antara lain : Permainan merupakan suatu
kesibukan yang ada dalam kehidupan sehari-hari dari diri anak berkebutuhan
khusus dan berguna bagi dirinya dalam kehidupannya yang mandiri kelak.
Tujuan Terapi, antara lain :
a.
Fisik meliputi perkembangan kekuatan
organ tubuh, peningkatan ketahanan otot-
otot dan organ tubuh, pencegahan dan
perbaikan sikap tubuh yang kurang baik.
b. Intelektual meliputi kemampuan
berkomunikasi, menghitung angka dalam suatu
permainan sehingga dapat dikatakan
menang atau kalah dll.
c. Emosi : penerimaan atas pimpinan
orang lain, bagaimana ia memimpin dll.
d. Sosialisasi : bagaimana dapat
bermain bersama, meningkatkan hubungan yang sehat dalam kelompok.
Peran Terapis, dalam pendidikan :
a
Sarana
pencegahan : Tidak menambah permasalahan baru dan menghmbat proses belajarnya.
b
Sarana
penyembuhan : Dapat disembuhkan atau dilatih sebagai sarana belajar melalui
bentuk-bentuk permainan yang ber7an mengembalikan fungsi
fisik,psiko-terapi,modifikasi perilaku, mengembangkan fungsi sosial, melatih
bicara, mempertajam atau latihan visual, latihan auditif, latihan taktil, dll.
c
Sarana
penyesuaian diri : Anak-anak sulit beradaptasi, oleh karena itu dilatih bekelompok
dalam permainan.
Teknik-Teknik
Terapi
Penggunaan terapi bermain sebagai teknik psikoterapi.
1.
Nilai
Terapiutik dari Permainan
2.
Kepada
Siapa Terapi Bermain Diberikan
3.
Prosedur
dalam Terapi Bermain.
4.
Hal
Penting Sesudah Terapi Bermain.
Terapi
Bermain (Santrock)
Penggunaan
terapi bermain sebagai teknik psikoterapi.
1.
Nilai Terapiutik dari Permainan
2.
Kepada Siapa Terapi Bermain Diberikan
3.
Prosedur dalam Terapi Bermain.
4.
Hal Penting Sesudah Terapi Bermain.
SUMBER
:
Mappiare, Andi. 1992. Pengantar
Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: PT Raja Grafindo
Semiun. Yustinus. 2006. Kesehatan
Mental. Yogyakarta. Kanisius
Gunarsa, S.D. (2007). Konseling
dan Psikoterapi. Jakarta: Gunung Mulia
Robert, S.H. (1997). Buku Psikoterapi:
Jakarta : Tiga Berlian