Pertemuan
Kedua
1.
Pengorganisasian
Struktur Manajemen
a.
Definisi Pengorganisasian:
·
Menurut James D. Mooney:”Organisasi
adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama”.
·
Menurut Siagian (dalam buku Filsafat
Administrasi (2006), menjelaskan organisasi sebagai berikut: “Setiap bentuk
persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerja bersama serta secara
formal terkait dalam rangka pencapaian suatu tujuan yang telah ditentukan dalam
ikatan yang terdapat seorang atau beberapa orang yang disebut atasan dan
seorang atau sekelompok orang yang disebut bawahan”.
·
Menurut Dimock (dalam Tangkilisan dengan
bukunya Manajemen Publik (2005), mendefinisikan organisasi adalah sebagai
berikut: “ organisasi adalah suatu cara yang sistematis untuk memadukan
bagian-bagian yang saling tergantung menjadi suatu kesatuan yang utuh dimana
kewenangan, koordinasi, dan pengawasan dilatih untuk mencapai tujuan yang telah
ditentukan”.
·
Menurut Dwight Waldo (dalam Kencana Syafie
dengan bukunya Birokrasi Pemerintah Indonesia (2004)), menjelaskan:” organisasi
sebagai suatu struktur dan kewenangan-kewenangan dan kebiasan dalam hubungan
antar orang-orang pada suatu system administrasi
·
Menurut Chester I. Bernard: “Organisasi
merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau
lebih”.
Seperti telah diuraikan sebelumnya tentang Manajemen, Pengorganisasian adalah merupakan fungsi kedua dalam Manajemen dan pengorganisasian didefinisikan sebagai proses kegiatan penyusunan struktur organisasi sesuai dengan tujuan-tujuan, sumber-sumber, dan lingkungannya.
Seperti telah diuraikan sebelumnya tentang Manajemen, Pengorganisasian adalah merupakan fungsi kedua dalam Manajemen dan pengorganisasian didefinisikan sebagai proses kegiatan penyusunan struktur organisasi sesuai dengan tujuan-tujuan, sumber-sumber, dan lingkungannya.
Sumber
:
Robbins dan Judge. 2007. Perilaku Organisasi, Jilid 2. Jakarta : Salemba Empat
b.
Pengorganisasian sebagai fungsi
manajemen : Salah satu Fungsi Manajemen Setelah kita telah mempelajari
perencanaan sebagai salah satu fungsi manajemen,tentunya kita harus mempelajari
fungsi manajemen lainnya.Salah satu
fungsi manajemen adalah mengetahui pengorganisasian yang merupakan salah satu
fungsi manajemen yang penting karena dengan pengorganisasian berarti akan
memadukan seluruh sumber-sumber yang ada dalam organisasi,baik yang berupa
sumber daya manusia maupun sumber daya lainnya
ke arah tercapainnya suatu
tujuan.pentingnya pengorganisasian sebagai fungsi yang dijalankan oleh setiap
manajer atau orang-orang yang menjalankan manajemendalam setiap
organisasi.Fungsi manajemen lainnya yaitu pengorganisasian,yang sama pula
pentingnya dengan fungsi perencanaan karena dalam pengorganisasian seluruh
sumber(resources) baik berupa manusia maupun yang nonmanusia harus diatur dan
paduakan sedemikian rupa untuk berjalannnya suatu organisasi dalam rangkai
pencapaian tujuannya. Pemahaman tentang pengorganisasian sebagai salah satu
fungsi manajemen,akan memberikan kejelasan bahwa proses pengaturan di dalam
organisasi tidak akan selesai,tanpa diikuti oleh aktuasi yang berupa bimbingan
kepada manusia yang berada di dalam organisasi tersebut,agar secara
terus-menerus dapat menjalankan kegiatan sesuai dengan tujuan yang telah
ditetapkan sebelumnya.
Sumber:
Ramli, Rusli & Warsidi, 2005Adi, Pengantar Manajemen. Penerbit UT
2.
Actuating
Manajemen
a. Definisi
Actuating : Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta
orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan
kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu
diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (At Taubah 105).
Actuating adalah kemampuan membujukorang-orang mencapai tujuan-tujuan yang
telah ditetapkan dengan penuhsemangat. Menggerakkan dalam organisasi sekolah
adalah merangsangguru dan personal sekolah lainnya melaksanakan tugas dengan
antusiasdan kemauan yang baik untuk mencapai tujuan dengan penuh
semangat.Pemimpin yang efektif cenderung mempunyai hubungan denganbawahan yang
sifatnya mendukung (suportif) dan meningkatkan rasapercaya diri menggunakan
kelompok membuat keputusan. Keefektifankepemimpinan menunjukkan pencapaian
tugas pada rata-rata kemajuan,keputusan kerja, moral kerja, dan kontribusi
wujud kerja. Prinsip utama dalam penggerakan adalah bahwa perilaku dapatdiatur,
dibentuk, atau diubah dengan sistem imbalan yang positif yangdikendalikan
dengan cermat.
Sumber
: QS. At-Taubah ayat 105
b. Pentingnya
Actuating : Fungsi actuating lebih menekankan pada kegiatan yang berhubungan
langsung dengan orang-orang dalam organisasi. Perencanaan dan pengorganisasian
yang baik kurang berarti bila tidak diikuti dengan penggerakan seluruh potensi
sumber daya manusia dan nonmanusia pada pelaksanaan tugas. Semua sumber daya manusia
yang ada harus dioptimalkan untuk mencapai visi, misi dan program kerja
organisasi. Setiap SDM harus bekerja sesuai dengan tugas, fungsi dan peran,
keahlian dan kompetensi masing-masing SDM untuk mencapai visi, misi dan program
kerja organisasi yang telah ditetapkan, dapat mempengaruhi orang-orang agar
bersedia menjadi pengikut, menaklukan daya tolak seseorang dan membuat orang
dapat mengerjakan tugasnya dengan baik dan mandiri.
Sumber:
QS. At-Taubah ayat 105
c. Prinsip
Actuating: Menurut Kurniawan (2009) prinsip-prinsip dalam penggerakan/actuating
antara lain:
1. Memperlakukan pegawai dengan sebaik-baiknya
2. Mendorong pertumbuhan dan perkembangan manusia
3. Menanamkan pada manusia keinginan untuk melebihi
4. Menghargai hasil yang baik dan sempurna
5. Mengusahakan adanya keadilan tanpa pilih kasih
6. Memberikan kesempatan yang tepat dan bantuan yang cukup
7. Memberikan dorongan untuk mengembangkan potensi dirinya
1. Memperlakukan pegawai dengan sebaik-baiknya
2. Mendorong pertumbuhan dan perkembangan manusia
3. Menanamkan pada manusia keinginan untuk melebihi
4. Menghargai hasil yang baik dan sempurna
5. Mengusahakan adanya keadilan tanpa pilih kasih
6. Memberikan kesempatan yang tepat dan bantuan yang cukup
7. Memberikan dorongan untuk mengembangkan potensi dirinya
Sumber:
QS. At-Taubah ayat 105
Mengendalikan
fungsi Manajemen
a. Definisi
Controling :
·
Menurut Harorld Koontz and cyrill
O’donell (dalam buku Nanang Fattah (2007)) menjelaskan bahwa: “controlling is
the measuaring and correcting of activities of subordinates to assure the
events conform to plans.”
(pengendalian adalah berhubungan dengan pembanding kejadian-kejadian dengan rencana-rencana dan melakukan tindakan-tindakan koreksi yang perlu terhadap kejadian-kejadian yang menyimpang dari rencana-rencana”).
(pengendalian adalah berhubungan dengan pembanding kejadian-kejadian dengan rencana-rencana dan melakukan tindakan-tindakan koreksi yang perlu terhadap kejadian-kejadian yang menyimpang dari rencana-rencana”).
·
Sedangkan menurut Sondang P. Siagian masih
dalam buku Nanang Fattah (2007), menjelaskan bahwa: “pengendalian adalah proses
pengamatan dari pada pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi untuk menjamin
agar semua pekerjaan yang sedang dilakukan berjalan sesuai dengan rencana yang
telah ditetapkan”.
Dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa pengendalian merupakan salah satu dari fungsi manajemen yang tujuannya untuk membeikan arahan agar pelaksanaan rencana dapat sesuai dengan yang telah ditentukan, kegiatan pengendalian dimaksudkan untuk mencegah penyimpangan-penyimpangan dalm pelaksanaan kegiatan.
Dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa pengendalian merupakan salah satu dari fungsi manajemen yang tujuannya untuk membeikan arahan agar pelaksanaan rencana dapat sesuai dengan yang telah ditentukan, kegiatan pengendalian dimaksudkan untuk mencegah penyimpangan-penyimpangan dalm pelaksanaan kegiatan.
Sumber:
Motivasi dan pemotivasian dalam manajemen, Winardi, SE, Prof,Dr,
RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2002.
b. Kontrol
sebagai proses Manajemen : Menurut Supriyono (2002) adalah sebagai berikut:
a. menentukan objek-objek yang akan diawasi
b. menetapkan standar sebagai alat ukur pengawasan atau yang menggambarkan pekerjaan yang dikehendaki.
c. Menentukan prosedur, waktu dan teknik yang digunakan.
d. Membandingkan antara hasil kerja dengan standar untuk mengetahui apakah ada perbedaan.
e. Melakukan tindakan-tindakan perbaikan (korektif) terhadap suatu penyimpangan.
a. menentukan objek-objek yang akan diawasi
b. menetapkan standar sebagai alat ukur pengawasan atau yang menggambarkan pekerjaan yang dikehendaki.
c. Menentukan prosedur, waktu dan teknik yang digunakan.
d. Membandingkan antara hasil kerja dengan standar untuk mengetahui apakah ada perbedaan.
e. Melakukan tindakan-tindakan perbaikan (korektif) terhadap suatu penyimpangan.
Sumber: Motivasi dan pemotivasian dalam
manajemen, Winardi, SE, Prof,Dr, RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2002.
c. Tipe-tipe
control:
a. Kontrol kemudi (umpan maju)
Kontrol ini dirancang untuk mendeteksi adanya penyimpangan dari tujuan yang telah ditetapkan dan memperbolehkan mengambil tindakan koreksi sebelum kegiatan selesai dikerjakan.
b. Kontrol Skening (ya atau tidak)
Merupakan proses yang terlebih dulu menyetujui aspek tertentu dari suatu prosedur atau syarat tertentu harus dipenuhi dulu sebelum kegiatan-kegiatan dapat dilanjutkan.
c. Kontrol Purna Karya (umpan balik)
Kontrol ini mengukur hasil dari suatu kegiatan yang telah diselesaikan. Penyebab dari penyimpangan rencana atau standar ditentukan dan penemuan-penemuan diterapkan untuk kegiatan serupa di waktu mendatang. Kontrol ini bersifat historis dan pengukuran dilakukan setelah kegiatan terjadi
Kontrol ini dirancang untuk mendeteksi adanya penyimpangan dari tujuan yang telah ditetapkan dan memperbolehkan mengambil tindakan koreksi sebelum kegiatan selesai dikerjakan.
b. Kontrol Skening (ya atau tidak)
Merupakan proses yang terlebih dulu menyetujui aspek tertentu dari suatu prosedur atau syarat tertentu harus dipenuhi dulu sebelum kegiatan-kegiatan dapat dilanjutkan.
c. Kontrol Purna Karya (umpan balik)
Kontrol ini mengukur hasil dari suatu kegiatan yang telah diselesaikan. Penyebab dari penyimpangan rencana atau standar ditentukan dan penemuan-penemuan diterapkan untuk kegiatan serupa di waktu mendatang. Kontrol ini bersifat historis dan pengukuran dilakukan setelah kegiatan terjadi
Sumber:
P. Siagian masih (dalam Nanang Fattah (2007)). Manajemen Keuangan, Jilid 1.
Bandung. Penerbit Gramediana.
Motivasi
a. Definisi
Motivasi : Suatu proses dimana kebutuhan-kebutuhan mendorong seseorang untuk
melakukan serangkaian kegiatan yang mengarah ke seseorang untuk melakukan
serangkaian kegiatan yang mengarah ke tercapainya tujuan tertentu.
Sumber:
Munandar,Ashar Sunyoto,(2008).Psikologi Industri dan
Organisasi.Jakarta:Universitas Indonesia.
b. Teori-teori
Motivasi :
Ada yang lebih menekankan pada
“Apa” yang memotivasi tenaga kerja, yaitu
·
Teori Motivasi Isi : Teori tata tingkat
kebutuhan, Teori eksistensi-relasi-pertumbuhan, Teori dua faktor, dan Teori
motivasi berprestasi
Ada yang lebih menekankan pada “Bagaimana” proses
motivasi, yaitu
·
Teori Motivasi Proses : Teori
pengukuhan, Teori tujuan, Teori expectancy, dan
Teori equity.
Sumber:
Munandar,Ashar Sunyoto,(2008).Psikologi Industri dan
Organisasi.Jakarta:Universitas Indonesia.
c. Definisi
Motivasi Kerja : Menurut Ernest
J. McCormick mendefinisikan sebagai kondisi yang berpengaruh membangkitkan,
mengarahkan dan memelihara perilaku yang berhubungan dengan lingkungan kerja.
Sumber
:
AA.
Anwar Prabu Mangkunegara, 2001. Manajemen Sumber Manusia Perusahaan. Bandung
:PT Remaja Rosdakarya
Kepuasan
Kerja
a. Definisi
Kepuasan Kerja : Menurut Marihot Tua Efendi (2002:290) kepuasan
kerja didefinisikan dengan hingga sejauh mana individu merasakan secara positif
atau negatif berbagai macam faktor atau dimensi dari tugas-tugas dalam
pekerjaannya. Dan Menurut pendapat Stephen Robbins (2003:91) istilah kepuasan
kerjamerujuk kepada sikap umum seorang individu terhadap pekerjaan yangdilakukannya.
Sumber
:
https://www.academia.edu/4484430/Teori_Kepuasan_Kerja
b. Aspek-aspek
Kepuasan Kerja: Menurut
Robbins (1996) ada lima aspek kepuasan kerja, yaitu:
1.
Kerja yang secara mental menantang karyawan cenderung menyukai
pekerjaan-pekerjaan yang member mereka kesempatan untuk menggunakan
keterampilan dan kemampuan mereka dan menawarkan tugas, kebebasan dan umpan
balik mengenai
betapa
baik mereka mengerjakan tugas tersebut.
2.
Para karyawan menginginkan pemberian upah dan kebijakan promosi yang mereka
persepsikan adil dan sesuai dengan harapan mereka. Bila upah dilihat adil yang
didasarkan pada tuntutan pekerjaan, tingkat keterampilan individu, dan standar
upah karyawan, kemungkinan besar akan mengahsilkan kepuasan.
3.
Kondisi kerja yang mendukung karyawan perduli akan lingkungan kerja baik untuk
kenyamanan pribadi maupun untuk memudahkan mengerjakan tugas. Studi-studi
memperagakan bahwa karyawan lebih menyukai lingkungan kerja yang tidak
berbahaya.
4.
Rekan kerja yang mendukung karyawan akan mendapatkan lebih daripada sekedar
uang atau prestasi yang berwujud dari dalam kerja. Bagi kebanyakan karyawan,
kerja juga mengisi kebutuhan akan interaksi sosial.
5.Kesesuaian
kepribadian dengan pekerjaan pada hakikatnya orang yang tipe kepribadiannya
sama dengan pekerjaan yang mereka pilih seharusnya mereka mempunyai bakat dan
kemampuan yang tepat untuk memenuhi tuntutan dari pekerjaan mereka.
c. Faktor-faktor penentuan Kepuasan Kerja :
·
Karakteristik
pekerjaan yang dapat menentukan kepuasan kerja ialah keragaman,
kesulitan, jumlah pekerjaan, tanggung jawab, otonomi, kendali terhadap metode
kerja, kemajemukan dan kreatifitas.
·
Gaji: Mempertimbangkan sejauh mana gaji yang
diterima oleh
karyawan dirasakan adil.
·
Hubungan
atasan-bawahan mencerminkan 2 (dua) hubungan, yaitu:
hubungan fungsional dan hubungan keseluruhan.
a. Hubungan fungsional mencerminkan
sejauh mana atasan
dapat membantu bawahan, untuk
memuaskan nilai-nilai pekerjaan yang penting baginya.
b. Hubungan keseluruhan didasarkan pada
ketertarikan antarpribadi yang mencerminkan sikap dasar dan nilai-nilai yang sama.
·
Dukungan
rekan kerja: Setiap pekerjaan dalam perusahaan memiliki kaitannya pekerjaan anatara satu dan lainnya.
·
Lingkungan
kerja yang menunjang : Guna
mencapai kepuasan kerja, perlu bagi perusahaan untuk memenuhi kebutuhan fisik di
lingkungan kerja.
Sumber: http://edukasi.kompasiana.com/2013/06/11/meninjau-aspek-penunjang-kepuasan-kerja-karyawan-567610.html
Tulisan 1 artikel tentang motivasi
kerja/ketidakpuasan kerja
ANALISIS HUBUNGAN
FAKTOR-FAKTOR MOTIVASI KERJA TERHADAP KEPUASAN KERJA KARYAWAN, STUDI KASUS
KARYAWAN RSO PROF. DR. R SOEHARSO SURAKARTA
A. Latar Belakang Masalah :
Penghujung abad keduapuluh ini seluruh dunia mengalami perubahan dalam berbagai segi kehidupan, baik pada tingkat nasional, regional maupun global. Di bidang politik, misalnya terjadi perubahan yang drastis dan fundamental, seperti berakhirnya perang dingin antara negara-negara adi kuasa dan runtuhnya rezim otoriter yang menganut ideologi komunisme di eropa timur. Di bidang ekonomi semakin banyak orang yang berbicara mengenai globalisasi perekonomian yang ditandai oleh interdependesi antara berbagai negara, baik antara negara-negara industri yang telah maju maupun antara negara-negara maju dan dunia ketiga. Di bidang kesehatan, misalnya semakin maraknya isu-isu kesehatan seperti flu burung, masalah penyakit folio yang merebak di Indonesia yang semakin hari semakin menjadi buah bibir, dan masalah kekurangan gizi yang dari tahun ke tahun menjadi masalah yang sangat memprihatinkan.
Usaha pemerintah dalam pembangunan manusia Indonesia seutuhnya, diantaranya adalah dengan menyediakan sarana-sarana untuk menunjang lancarnya kegiatan-kegiatan baik di bidang ekonomi, sosial budaya, kesehatan dan lain-lain. Dalam hal sarana kesehatan diusahakan dapat merata keseluruh pelosok desa. Contohnya puskesmas didirikan di setiap kecamatan, adanya balai-balai pengobatan dan kegiatan-kegiatan yang berpengaruh dibidang kesehatan yang ada di tiap-tiap desa. Tetapi sarana-sarana tersebut belum cukup untuk melayani kebutuhan kesehatan bagi masyarakat.
Rumah sakit adalah bagian integral dari keseluruhan sistem pelayanan kesehatan yang dikembangkan melalui rencana pembangunan kesehatan (Adikoesoemo, 1995 : 11). Dalam rumah sakit terdiri dari beberapa unsur pendukung, antara lain dokter sebagai tenaga medis, paramedis, obat-obatan dan para karyawan sebagai pengelola rumah sakit. Rumah sakit adalah suatu perusahaan yang tidak bertujuan menghimpun laba namun memberikan pelayanan medis. Untuk itu rumah sakit memerlukan pengelolaan yang baik agar dalam melaksanakan fungsinya dapat efektif dan efisien.
RSO. Prof. DR. R. Soeharso yang letaknya berada di Surakarta yang merupakan salah satu rumah sakit milik pemerintah di Karesidenan Surakarta. RSO Prof. DR. R. Soeharso merupakan salah satu rumah sakit yang khusus menangani bedah tulang (patah tulang). RSO. Prof. DR. R. Soeharso memiliki banyak jenis pelayanan dan instalasi, namun dari berbagai jenis pelayanan dan instalasi tersebut jenis pelayanan utama yang terdapat di RSO Prof DR R Soeharso Surakarta adalah pelayanan rawat inap dan pelayanan instalasi bedah sentral yang memiliki aktivitas yang relatif kompleks dan rutin dibandingkan dengan pelayanan dan instalasi lainnya, sehingga pihak rumah sakit perlu membutuhkan karyawan yang memiki motivasi kerja yang tinggi.
Motivasi kerja erat kaitannya dengan kepuasan kerja. Kepuasan kerja merupakan respons seseorang terhadap berbagai macam situasi dalam lingkungan kerja, termasuk didalamnya respon terhadap komunikasi yang berlangsung dalam suatu organisasi atau perusahaan. Komunikasi yang tidak terjalin secara baik antara pimpinan dengan karyawan dapat menjadi kendala dalam mewujudkan kepuasan kerja.
Kepuasan kerja menjadi masalah yang cukup menarik dan penting, karena besar manfaatnya bagi kepentingan individu, perusahaan dan masyarakat. Bagi individu, penelitian tentang sebab-sebab dan sumber-sumber kepuasan kerja memungkinkan timbulnya usaha-usaha peningkatan kebahagiaan mereka. Bagi perusahaan, penelitian mengenai kepuasan kerja dilakukan dalam rangka usaha peningkatan kualitas produksi melalui perbaikan sikap dan tingkah laku karyawan, selanjutnya masyarakat tentu akan menikmati hasil dari produk atau jasa perusahaan yang maksimal.
Pada dasarnya kepuasan kerja merupakan hal yang bersifat individual. Setiap individu akan memiliki tingkat kepuasan yang berbeda-beda sesuai dengan sistem nilai yang berlaku pada dirinya. Hal ini disebabkan adanya perbedaan pada masing-masing individu. Semakin banyak aspek-aspek dalam pekerjaan yang sesuai dengan keinginan individu tersebut, maka semakin tinggi tingkat kepuasan yang dirasakannya dan sebaliknya.
Salah satu kepuasan sejati yang dapat diperoleh dalam lingkungan kerja adalah rasa bangga, puas dan keberhasilan dalam melakukan tugas pekerjaannya secara tuntas, biasa disebut dengan insting keahlian. Prestasi memberikan pada seseorang status sosial, respect dan pengakuan dari lingkungan masyarakat atau perusahaan (Kartini, 1985: 177)\
Howell dan Dipboye memandang kepuasan kerja sebagai hasil keseluruhan dari derajat rasa suka atau tidak sukanya pekerja atau karyawan terhadap berbagai aspek dalam pekerjaannya. Kepuasan mencerminkan sikap tenaga kerja terhadap pekerjaannya (Ashar, 2001: 350)
Ada beberapa persoalan yang diindikasikan terkait dengan kepuasan kerja karyawan atau perawat RSO. Prof. DR. R. Soeharso Surakarta. Status karyawan kontrak yang tidak dikuatkan dengan SK menyebabkan kekhawatiran sebagian karyawan akan jaminan dari pihak rumah sakit. Persoalan lain yang ditengarai juga berkaitan dengan kepuasan kerja adalah perihal tunjangan, penghargaan dan hubungan dengan pimpinan serta rekan kerja. Tuntutan kerja terhadap kinerja karyawan dirasa tidak cukup sebanding dengan kompensasi yang diberikan rumah sakit.
Keluhan perawat atau karyawan akan kondisi pekerjaan dan belum adanya penghargaan atas hasil kerja kadang sebagai pemicu rendahnya motivasi kerja dari sekian banyak penyebab yang mengakibatkan rendahnya tingkat motivasi. Secara umum disebutkan apabila tenaga dan sarana (kuantitas dan kualitas) tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan (standard of personels and fasilities), serta jika dana yang tersedia tidak sesuai dengan kebutuhan maka sulitlah diharapkan baiknya mutu pelayanan (Bruce: Framberg dan Gambanc cit Azwar, 1994)
Penurunan motivasi kerja dapat terjadi karena kurang disiplin yang disebabkan oleh turunnya tingkat kepuasan karyawan tersebut. Untuk itu pimpinan rumah sakit harus memberikan suatu motivasi kepada karyawan sehingga dapat meningkatkan kepuasan kerja karyawan, motivasi dapat berupa pemenuhan kebutuhan fisik, kebutuhan rasa aman dan sebagainya. Dengan pemberian motivasi kerja akan tercermin rasa tanggung jawab, semangat kerja maka akan menciptakan keinginan untuk bekerja dan memberikan yang terbaik untuk pekerjaannya.
Begitu pentingnya motivasi, maka pimpinan dituntut untuk peka terhadap kepentingan karyawannya. Disini pendekatan bukan hanya terhadap karyawan tetapi juga terhadap keluarga dan lingkungan. Sehingga pimpinan tahu apa yang menyebabkan karyawan termotivasi dalam bekerja. Jadi motivasi merupakan salah satu faktor penentu dalam mencapai kepuasan kerja.
Motivasi merupakan hal yang sangat diharapkan sebuah perusahaan untuk mencapai tujuan perusahaan yang diinginkan. Untuk itulah dalam kesempatan ini peneliti merasa tertarik mengambil penelitian dengan mengangkat judul: “ANALISIS HUBUNGAN FAKTOR-FAKTOR MOTIVASI KERJA TERHADAP KEPUASAN KERJA KARYAWAN : STUDI KASUS KARYAWAN RSO PROF. DR. R SOEHARSO SURAKARTA
B. Identifikasi
masalah
Identifikasi
masalah dari penelitian ini adalah:
1.
Keluhan perawat atau karyawan akan kondisi pekerjaan dan belum adanya
penghargaan atas hasil kerja sebagai pemicu rendahnya motivasi kerja
2.
Kompensasi gaji yang diberikan oleh perusahaan yang dianggap oleh
sebagian karyawan belum sesuai dengan tuntutan kerja yang dibebankan kepada
karyawan
3.
Terdapat hambatan psikologis yang menjadi kendala terjalinnya komunikasi
yang efektif antara karyawan dengan pimpinan.
4.
Pimpinan kurang aktif dalam memantau kepuasan kerja karyawan.
5.
Pimpinan kurang peka terhadap kepentingan karyawan atau perawat.
C.
Batasan Masalah
Pembatasan masalah kaitannya dengan penelitian ini terbatas dan fokus pada:
1. Fokus
pembahasan adalah karyawan atau perawat IBS (Instalansi Bedah Sentral),
Anesthesi dan Ruang Sadar.
2. Penelitian
ini dilakukan di RSO Prof. Dr. R Soeharso Surakarta
3. Banyak
variabel yang mempengaruhi kepuasan kerja, dalam penelitian ini dibatasi pada
variabel gaji, tunjangan dan lingkungan kerja.
D.
Rumusan Masalah
Perumusan
masalah merupakan langkah yang sangat penting karena langkah ini menentukan
kemana suatu penelitian diarahkan. Perumusan masalah pada hakekatnya merupakan
perumusan pernyataan yang jawabannya akan dicari melalui penelitian.
Maka
penulis merumuskan permasalahan ini sebagai berikut:
1. Apakah ada hubungan yang
signifikan antara faktor motivasi kerja terhadap Kepuasan Kerja perawat IBS
(Instalasi Bedah Sentral), Anesthesi dan Ruang Sadar di RSO Prof. Dr. R
Soeharso Surakarta?
2. Variabel yang mana
lebih dominan antara variabel Gaji, Tunjangan, dan lingkungan kerja dengan
variabel kepuasan kerja karyawan?
E.
Tujuan Penelitian
1.
Untuk mengidentifikasi ada tidaknya hubungan faktor-faktor motivasi terhadap
kepuasan kerja karyawan.
2.
Untuk menganalisis tingkat hubungan antara faktor motivasi kerja dengan
kepuasan kerja karyawan.
F.Manfaat
Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah:
1. Bagi
Rumah Sakit
Sebagai
bahan pertimbangan bagi rumah sakit untuk mengambil kebijaksanaan dalam rangka
meningkatkan motivasi yang akhirnya akan menghasilkan kepuasan kerja karyawan
2. Bagi
Pengembangan Ilmu
a)
Sebagai tambahan wacana ekonomi mengenai faktor-faktor yang berhubungan
dengan kepuasan kerja.
b) Sebagai referensi ilmiah yang dapat dipergunakan oleh
pihak yang memerlukan untuk bahan pertimbangan
Sumber:
http://www.pekerjadata.com/2013/11/analisis-hubungan-faktor-faktor.html