Logo Terapi (Frankl)
Unsur-unsur
Logoterapi
- Munculnya Gangguan
- Tujuan Terapi: Untuk memahami adanya potensi dan
sumber daya rohaniah yang secara universal ada pada setiap orang terlepas dari
ras, keyakinan dan agama yang dianutnya;
· Untuk menyadari bahwa sumber-sumber dan potensi itu sering ditekan, terhambat dan diabaikan bahkan terlupakan· Bertujuan memanfaatkan daya-daya tersebut untuk bangkit kembali dari penderitaan untuk mampu tegak kokoh menghadapi berbagai kendala, dan secara sadar mengembangkan diri untuk meraih kualitas hidup yang lebih bermakna.
- Peran Terapis
o Menjaga hubungan yang akrab dan pemisahan ilmiah
o Mengendalikan filsafat pribadi
o Terapis bukan guru atau pengkhotbah
o Memberi makna lagi pada hidup
o Memberi makna lagi pada penderita
o Menekankan makna kerja
o Menekankan makna cinta
Teknik-Teknik
Terapi Logoterapi
·
Diantara teknik-teknik tersebut
adalah yang dikenal dengan intensi paradoksal, yang mampu menyelesaikan
lingkaran neurotis yang disebabkan kecemasan anti sipatori dan hiper-intensi.
Intensi paradoksal adalah keinginan terhadap sesuatu yang ditakuti.
·
·
Teknik terapi Frankl yang kedua
adalah de-refleksi. Frankl percaya bahwa sebagian besar persoalan kejiwaan
berawal dari perhatian yang terlalu terfokus pada diri sendiri. Dengan
mengalihkan perhatian dari diri sendiri dan mengarahkannya pada orang lain,
persoalan-persoalan itu akan hilang dengan sendirinya
Konsep Utama Logoterapi
Teori dan terapi Viktor Frankl lahir dari pengalamannya
selama menjadi tawanan di kamp konsentrasi Nazi. Di sana, ia menyaksikan banyak
orang yang mampu bertahan hidup atau mati di tengah siksaan. Hingga akhirnya
dia menganggap bahwa mereka yang tetap berharap bisa bersatu dengan orang-orang
yang dicintai, punya urusan yang harus diselesaikan di masa depan, punya
keyakinan kuat, memiliki kesempatan lebih banyak daripada yang kehilangan
harapan.
Frankl menamakan terapinya dengan logoterapi, dari kata
Yunani, “logos”, yang berarti pelajaran, kata, ruh, Tuhan atau makna. Frankl
menekankan pada makna sebagai pegertian logos. Bila Freud dan Addler menekankan
pada kehendak pada kesenangan sebagai sumber dorongan. Maka, Frankl menekankan
kehendak untuk makna sebagai sumber utama motivasi.
Logoterapi percaya bahwa perjuangan untuk menemukan makna
hidup dalam hidup seseorang merupakan motivator utama orang tersebut.
Logoterapi berusaha membuat pasien menyadari tanggungjawab dirinya dan
memberinya kesempatan untuk memilih, untuk apa, atau kepada siapa dia merasa
bertanggungjawab. Logoterapi tidak menggurui atau berkotbah melainkan pasien sendiri
yang harus memutuskan apakah tugas hidupnya bertanggung jawab terhadap
masyarakat, atau terhadap hati nuraninya sendiri.
Selain itu, Frankl juga menggunakan noös yang berarti
jiwa/pikiran. Bila psikoanalisis terfokus pada psikodinamik, yakni manusia
dianggap berusaha mengatasi dan mengurangi ketegangan psikologis. Namun, Frankl
menyatakan seharusnya lebih mementingkan noödinamik, yaitu ketegangan menjadi
unsur penting bagi keseimbangan dan kesehatan jiwa. Bagaimana pun, orang
menginginkan adanya ketegangan ketika mereka berusaha mencapai tujuan.
Menurut Frankl logoterapi memiliki wawasan mengenai manusia
yang berlandaskan tiga pilar filosofis yang satu dengan lainya erat hubunganya
dan saling menunjang yaitu:
a. Kebebasan berkehendak (Freedom
of Will): Dalam pandangan logoterapi, manusia adalah mahluk yang istimewa
karena mempunyai kebebasan. Kebebasan disini bukanlah kebebasan yang mutlak,
tetapi kebebasan yang bertanggungjawab. Kebebasan manusia bukanlah kebebasan
dari (freedom from) kondisi-kondisi biologis, psikologis dan
sosiokultural tetapi lebih kepada kebebasan untuk mengambil sikap (freedom
to take a stand) atas kondisi-kondisi tersebut. Kelebihan manusia yang lain
adalah kemampuan untuk mengambil jarak (to detach) terhadap kondisi di
luar dirinya, bahkan manusia juga mempunyai kemampuan-kemampuan mengambil jarak
terhadap dirinya sendiri (self detachment). Kemampuan-kemampuan inilah
yang kemudian membuat manusia disebut sebagai “the self deteming being”
yang berarti manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan sendiri apa yang
dianggap penting dalam hidupnya.
b.
Kehendak Hidup Bermakna (The Will to Meaning): Menurut Frankl, motivasi
hidup manusia yang utama adalah mencari makna. Ini berbeda denga psikoanalisa
yang memandang manusia adalah pencari kesenangan atau juga pandangan psikologi
individual bahwa manusia adalah pencari kekuasaan. Menurut logoterapi bahwa
kesenagan adalah efek dari pemenuhan makna, sedangkan kekuasaan merupakan
prasyarat bagi pemenuhan makna itu. Mengenal makna itu sendiri menurut Frankl
bersifat menarik (to pull) dan menawari (to offer) bukannya
mendorong (to push). Karena sifatnya menarik itu maka individu
termotivasi untuk memenuhinya agar ia menjadi individu yang bermakna dengan
berbagai kegiatan yang sarat dengan makna.
c. Makna Hidup (The Meaning
Of Life) : Makna hidup adalah sesuatu yang dianggap penting, benar dan
didambakan serta memberikan nilai khusus bagi seseorang. Untuk tujuan praktis
makna hidup dianggap identik dengan tujuan hidup. Makna hidup bisa berbeda antara
manusia satu dengan yang lainya dan berbeda setiap hari, bahkan setiap jam.
Karena itu, yang penting bukan makna hidup secara umum, melainkan makna khusus
dari hidup seseorang pada suatu saat tertentu. Setiap manusia memiliki
pekerjaan dan misi untuk menyelesaikan tugas khusus.
Dalam
kaitan dengan tugas tersebut dia tidak bisa digantikan dan hidupnya tidak bisa
diulang. Karena itu, manusia memiliki tugas yang unik dan kesempatan unik untuk
menyelesaikan tugasnya (Frankl, 2004). Kerangka berpikir teori kepribadian
model logoterapi dan dinamika kepribadiannya dapat digambarkan sebagai berikut.
·
Pertama:
Setiap orang selalu mendambakan kebahagiaan dalam hidupnya. Dalam pandangan
logoterapi, kebahagiaan itu tidak datang begitu saja, tetapi merupakan akibat
sampingan dari keberhasilan seseorang memenuhi keinginannya untuk hidup
bermakna (the will to meaning). Mereka yang berhasil memenuhinya akan
mengalami hidup yang bermakna (meaningful life) dan ganjaran (reward)
dari hidup yang bermakna adalah kebahagiaan (happiness).
·
Kedua:
Jika mereka yang tak berhasil memenuhi motivasi ini akan mengalami kekecewaan
dan kehampaan hidup serta merasakan hidupnya tidak bermakna (meaningless).
Kondisi ini apabila tidak teratasi dapat mengakibatkan gangguan neurosis (noogenik
neurosis), mengembangkan karakter totaliter (totalitarianism) dan
konformis (conformism).
·
Ketiga:
Frankl menentang pendirian dalam psikologi dan psikoterapi bahwa manusia
ditentukan oleh kondisi biologis, konflik-konflik masa kanak-kanak, atau
kekuatan lain dari luar. Ia berpendapat bahwa kebebasan manusia merupakan
kebebasan yang berada dalam batas-batas tertentu. Manusia dianggap sebagai
makhluk yang memiliki berbagai potensi luar biasa, tetapi sekaligus memiliki
keterbatasan dalam aspek ragawi, aspek kejiwaan, aspek sosial budaya dan aspek
kerohanian.
·
Keempat: kebebasan manusia bukan merupakan kebebasan
dari (freedom from) bawaan biologis, kondisi psikososial dan
kesejarahannya, melainkan kebebasan untuk menentukan sikap (freedom to take
a stand) secara sadar dan menerima tanggung jawab terhadap kondisi-kondisi
tersebut, baik kondisi lingkungan maupun kondisi diri sendiri. Dengan demikian,
kebebasan yang dimaksud Frankl bukanlah lari dari persoalan yang sebenarnya
harus dihadapi.
·
Kelima:
dalam berperilaku, manusia berusaha mengarahkan dirinya sendiri pada sesuatu
yang ingin dicapainya, yaitu makna. Keinginan akan makna inilah yang mendorong
setiap manusia untuk melakukan berbagai kegiatan agar hidupnya dirasakan
berarti dan berharga. Namun, Frankl tidak sependapat dengan prinsip
determinisme dan berkeyakinan bahwa manusia dalam berperilaku terdorong
mengurangi ketegangan agar memperoleh keseimbangan dan mengarahkan dirinya
sendiri menuju tujuan tertentu yang layak bagi dirinya.
Referensi:
Frankl. Emil. 2004. On the theory and therapy
of mental disorders: an introduction to logotherapy and existential
analysis.New York: Brunner-Routledge 270 Madison Avenue.
Frankl. Emil. 2004. On the theory and therapy of
mental disorders: an introduction to logotherapy and existential analysis.
Brunner-Routledge 270 Madison Avenue. New York.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar