1. Memahami dan menjelaskan secara
garis besar materi perkuliahan Kesehatan Mental?
·
Menurut Pieper dan Uden (2006),
kesehatan mental adalah suatu keadaan dimana seseorang tidak mengalami perasaan
bersalah terhadap dirinya sendiri, memiliki estimasi yang relistis terhadap
dirinya sendiri dan dapat menerima kekurangan atau kelemahannya, kemampuan
menghadapi masalah-masalah dalam hidupnya, memiliki kepuasan dalam kehidupan
sosialnya, serta memiliki kebahagiaan dalam hidupnya.
·
Notosoedirjo dan Latipun (2005),
mengatakan bahwa terdapat banyak cara dalam mendefenisikan kesehatan mental
(mental hygene) yaitu:
1) Karena
tidak mengalami gangguan mental
2) Tidak
jatuh sakit akibat stessor
3) Sesuai
dengan kapasitasnya dan selaras dengan lingkungannya,
4) Dan
tumbuh dan berkembang secara positif.
2. Memahami dan menjelaskan konsep
sehat berdasarkan dimensi emosi, intelektual, sosial, fisik, spiritual?
·
Pengertian Kesehatan: Secara umum,
pengertian kesehatan yaitu suatu kondisi atau keadaan secara umum seseorang
dari segi semua aspek. Dalam pengertian ini dimaksudkan bahwa kesehatan
merupakan tingkat keefisienan dari fungsional dengan atau tanpa metabolisme
dari suatu organisme dan juga termasuk manusia. Adapula kesehatan dapat
juga diartikan sebagai keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Menurut
Undang-Undang, kesehatan adalah keadaan
sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup
produktif secara sosial dan ekonomis. Pada tahun 1986, WHO, dalam Piagam Ottawa
untuk Promosi Kesehatan, mengatakan bahwa pengertian kesehatan adalah sumber daya bagi kehidupan sehari-hari, bukan
tujuan hidup. Kesehatan adalah konsep positif menekankan sumber daya sosial dan
pribadi, serta kemampuan fisik. Seseorang dikatakan sehat apabila ia memiliki
tubuh jasmaniah yang sehat, tidak berpenyakit, gizi yang baik, psike (mental)
rukhaniyah yang tenang, tidak gelisah, mempunyai kedudukan sosial yang baik,
mempunyai kehidupan dan rumah berlindung, serta dihargai sebagai manusia
(WHO,1984). Di dalam artikel ini saya akan menjelaskan konsep kesehatan
berdasarkan dimensi emosi, intelektual, sosial, fisik, dan spiritual.
a. Dimensi
Emosi: Dimensi
yang meihat dari bagaimana
reaksi emosinya seperti menangis, sedih, bahagia, depresi, optimis. Kesehatan Emosional/Afektif dilihat dari
kemampuan mengenal emosi dan mengekspresikan emosi tersebut secara tepat.
b. Dimensi
Intelektual:
Dimensi yang melihat
bagaimana seseorang berfikir dilihat dari wawasannya, pemahamannya, alasannya,
logika dan pertimbangnnya. Pikiran
sehat tercermin dari cara berpikir atau jalan pikiran.
c. Dimensi
Sosial,: Dimensi
yang melihat dari tingkah
laku manusia dalam kelompok sosial, keluarga
dan sesama lainnya serta penerimaan norma sosial dan pengendalian tingkah laku. Kesehatan Sosial dapat dilihat dari
kemampuan untuk membuat dan mempertahankan hubungan dengan orang lain, perilaku
kehidupan dalam masyarakat.
d.
Dimensi
Fisik: Merupakan
dimensi yang dapat ditelaah secara langsung atau
memiliki dimensi yang paling nyata. Kesehatan fisik dapat dilihat dari kemampuan mekanistik dari tubuh. Kesehatan fisik terwujud apabila
sesorang tidak merasa dan mengeluh sakit atau tidak adanya keluhan dan memang
secara objektif tidak tampak sakit. Semua organ tubuh berfungsi normal atau
tidak mengalami gangguan. Sehat jasmani
merupakan komponen penting dalam arti sehat seutuhnya, berupa sosok manusia
yang berpenampilan kulit bersih, mata bersinar, rambut tersisir rapi,
berpakaian rapi, berotot, tidak gemuk, nafas tidak bau, selera makan baik,
tidur nyenyak, gesit dan seluruh fungsi fisiologi tubuh berjalan normal.
e.
Dimensi Spiritual dilihat dari kepercayaan dan praktek keagamaan. Karena, kesehatan
spiritual dapat dilihat dari kemampuan seseorang dalam mencapai kedamaian hati.
Spiritual sehat tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur, pujian, kepercayaan dan sebagainya terhadap sesuatu di luar alam fana ini, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa misalnya dilihat dari praktik keagamaan seseorang. Dengan perkataan lain, sehat spiritual adalah keadaan dimana seseorang menjalankan ibadah dan semua aturan-aturan agama yang dianutnya.
Spiritual sehat tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur, pujian, kepercayaan dan sebagainya terhadap sesuatu di luar alam fana ini, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa misalnya dilihat dari praktik keagamaan seseorang. Dengan perkataan lain, sehat spiritual adalah keadaan dimana seseorang menjalankan ibadah dan semua aturan-aturan agama yang dianutnya.
3. Memahami dan menjelaskan sejarah
perkembangan/ timbulnya gerakan kesehatan mental?
Kesehatan
Mental berawal dari fenomena atau realita yang terjadi pada diri manusia sejak
zaman pra Ilmiah. Menurut Marx Webeer, manusia memasuki zaman atau era sejarah
ketika mentalitas dari individu-individu itu sendiri telah tertata dengan rapi
dan didukung dari segala aspek lingkungan yang memungkinkan. Oleh karena itu,
manusia dapat menghasilkan kebudayaan untuk pertama kalinya sebagai penanda
adanya era baru (sejarah). Hal itu berarti tanpa kesehatan mental yang tertata
dengan rapi, maka tidak akan ada kebudayaan yang lahir. Tanpa kebudayaan
tersebut, maka manusia pun tidak akan pernah memasuki era ini. Kesehatan mental
adalah kunci dari mobilitas personal dan sosial manusia.
PERKEMBANGAN
KESEHATAN MENTAL PRA ILMIAH
1. Masa Animisme: Sejak zaman dulu,
sikap terhadap gangguan kepribadian atau mental telah muncul dalam konsep
primitif animisme. Ada kepercayaan bahwa dunia ini diawasi atau dikuasai oleh
roh-roh atau dewa-dewa. Orang primitif percaya bahwa angin bertiup, ombak
mengalun, batu berguling, dan pohon tumbuh karena pengaruh roh yang tinggal
dalam benda-benda tersebut. Orang Yunani percaya bahwa gangguan mental terjadi
karena dewa marah dan membawa pergi jiwanya. Untuk menghindari kemarahannya,
maka mereka mengadakan perjamuan pesta (sesaji) dengan mantra dari korban yang
mereka persembahkan. Praktik-praktik semacam tersebut berlangsung mulai dari
abad 7-5 SM.
2. Masa Naturalisme: Setelah kemunculan
naturalisme, maka praktik semacam itupun kian berkurang, walaupun kepercayaan
tentang penyakit mental tersebut berasal dari roh-roh jahat tetap bertahan
sampai abad pertengahan. Perubahan sikap terhadap tradisi animisme terjadi pada
zaman Hipocrates (460-467). Dia dan pengikutnya mengembangkan pandangan
revolusioner dalam pengobatan, yaitu dengan menggunakan pendekatan
”Naturalisme”. Aliran ini berpendapat bahwa gangguan mentalatau fisik merupakan
akibat dari alam. Hipocrates menolak pengaruh roh, dewa, setan atau hantu
sebagai penyebab sakit. Dia menyatakan: ”Jika Anda memotong batok kepala, maka
Anda akan menemukan otak yang basah, dan memicu bau yang amis, tetapi Anda
tidak akan melihat roh, dewa atau hantu yang melukai badan Anda.” Ide
naturalistik ini kemudian dikembangkan oleh Galen, seorang tabib dalam lapangan
pekerjaan pemeriksaan atau pembedahan hewan. Dalam perkembangan selanjutnya,
pendekatan naturalistik ini tidak dipergunakan lagi di kalangan orang-orang
Kristen.
PERKEMBANGAN
KESEHATAN MENTAL ERA MODERN
Perubahan yang sangat berarti dalam sikap dan pengobatan
gangguan mental, yaitu dari animisme (irrasional) dan tradisional ke sikap dan
cara yang rasional (ilmiah), terjadi pada saat berkembangnya psikologi abnormal
dan psikiatri di Amerika Serikat, yaitu pada tahun 1783. Ketika itu, Benyamin
Rush (1745-1813) menjadi anggota staff medis di rumah sakit Pensylvania. Di
rumah sakit ini, ada 24 pasien yang dianggap sebagai lunatics(orang-orang gila
atau sakit ingatan). Pada waktu itu, sedikit sekali pengetahuan tentang
penyakit kegilaan tersebut, dan kurang mengetahui cara menyembuhkannya. Sebagai
akibatnya, pasien-pasien tersebut dikurung dalam sel yang kurang sekali alat
ventilasinya, dan mereka sekali-sekali diguyur dengan air. Rush melakukan usaha
yang sangat berguna untuk memahami orang-orang yang menderita gangguan mental
tersebut. Cara yang ditempuhnya adalah dengan melalui penulisan artikel-artikel
dalam koran, ceramah, dan pertemuan-pertemuan lainnya. Akhirnya, setelah usaha
itu dilakukan (selama 13tahun), yaitu pada tahun 1796, di rumah mental, ruangan
ini dibedakan untuk pasien wanita dan pria. Secara berkesenimbungan, Rush
mengadakan pengobatan kepada para pasien dengan memberikan dorongan (motivasi)
untuk mau bekerja, rekreasi, dan mencari kesenangan. Perkembangan psikologi
abnormal dan pskiatri ini memberikan pengaruh kepada lahirnya ”mental hygiene”
yang berkembang menjadi suatu ”Body of Knowledge” beserta gerakan-gerakan yang
terorganisir. Perkembangan kesehatan mental dipengaruhi oleh gagasan, pemikiran
dan inspirasi para ahli, terutama dari dua tokoh perintis, yaitu Dorothea Lynde
Dixdan Clifford Whittingham Beers. Kedua orang ini banyak mendedikasikan
hidupnya dalam bidang pencegahan gangguan mental dan pertolongan bagi
orang-orang miskin dan lemah. Dorthea Lynde Dix lahir pada tahun 1802 dan
meninggal dunia tanggal 17 Juli 1887. Dia adalah seorang guru sekolah di
Massachussets, yang menaruh perhatian terhadap orang-orang yang mengalami
gangguan mental. Sebagian perintis (pioneer), selama 40 tahun, dia berjuang
untuk memberikan pengorbanan terhadap orang-orang gila secara lebih manusiawi.
Usahanya, mula-mula diarahkan pada para pasien mental di rumah sakit. Kemudian
diperluas kepada para penderita gangguan mental yang dikurung di rumah-rumah
penjara. Pekerjaan Dix ini merupakan faktor penting dalam membangun kesadaran
masyarakat umum untuk memperhatikan kebutuhan para penderita gangguan mental.
Berkat usahanya yang tak kenal lelah, di Amerika Serikat didirikan 32 rumah
sakit jiwa. Dia layak mendapat pujian sebagai salah seorang wanita besar di
abad ke-19. Pada tahun 1909, gerakan kesehatan mental secara formal mulai
muncul. Selama dekade 1900-1909, beberapa organisasi kesehatan mental telah
didirikan, seperti American Social Hygiene Associatin(ASHA), dan American
Federation for Sex Hygiene. Perkembangan gerakan-gerakan di bidang
kesehatanmental ini tidak lepas dari jasa Clifford Whittingham Beers (1876-
1943). Bahkan, karena jasa-jasanya itulah, dia dinobatkan sebagai ”The Founder
Of The Mental Hygiene Movement”. Dedikasi Beers yang begitu kuat dalam
kesehatan mental dipengaruhi oleh pengalamannya sebagai pasien di beberapa
rumah sakit jiwa yang berbeda. Selama di rumah sakit, dia mendapatkan pelayanan
atau pengobatan yang keras dan kasar (kurang manusiawi). Kondisi seperti ini
terjadi karena pada masa itu belum ada perhatian terhadap masalah gangguan
mental, apalagi pengobatannya. Setelah dua tahun mendapatkan perawatan di rumah
sakit, dia mulai memperbaiki dirinya. Selama tahun terakhirnya sebagai pasien,
dia mulai mengembangkan gagasan untuk membuat gerakan untuk melindungi
orang-orang yang mengalami gangguan mental atau orang gila (insane). Setelah
dia kembali dalam kehidupan yang normal (sembuh dari penyakitnya), pada tahun
1908, dia menindaklanjuti gagasannya dengan mempublikasikan tulisan
autobiografinya yang berjudul A Mind That Found It Self. Beers meyakini bahwa
penyakit atau gangguan mental dapat dicegah atau disembuhkan. Dia merancang
suatu program yang bersifat nasional, yang tujuannya adalah:
1.
Mereformasi
program perawatan dan pengobatan terhadap pengidap penyakit
jiwa;
2.
Melakukan
penyebaran informasi kepada masyarakat agar mereka memiliki pemahaman dan
sikap yang positif terhadap para pasien yang mengidap gangguan atau penyakit
jiwa;
3.
Mendorong
dilakukannya berbagai penelitian tentang kasus-kasus dan obat gangguan mental;
4.
Mengembangkan
praktik-praktik untuk mencegah gangguan mental.
Begitu tertariknya terhadap gagasan Beers, Adolf Mayer
menyarankan untuk menamai gerakan itu dengan nama ”Mental Hygiene”. Dengan
demikian, yangmempopulerkan istilah ”Mental Hygiene” adalah Mayer. Belum lama
setelah buku itu diterbitkan pada tahun 1908, sebuah organisasi pertama didirikan,
bernama ”Connectievt Society For Mental Hygiene”.Satu tahu kemudian,
didirikanlah ”National Commite Society For Mental Hygiene”, dan Beers diangkat
menjadi sekretarisnya. Organisasi ini bertujuan untuk melindungi kesehatan
mental masyarakat, menyusun standard perawatan para pengidap gangguan mental,
meningkatkan studi tentang gangguan mental dalam segala bentuknya dan berbagi
aspek yang terkait dengannya, menyebarkan pengetahuan tentang kasus gangguan
mental, pencegahan dan penobatannya dan mengkoordinasikan lembaga-lembaga
perawatan yang ada. Terkait dengan perkembangan gerakan kesehatan mental ini,
Deutsch mengemukakan bahwa pada masanya dan pasca Perang Dunia I, gerakan
kesehatan mental ini mengkonsentarsikan programnya untuk membantu mereka yang
mengalami masalah serius. Setelah perang usai, gerakan kesehatan mental semakin
berkembang dan cakupan garapannya meliputi berbagai bidang kegiatan, seperti
pendidikan, kesehatan masyarakat, pengobatan umum, industri, kriminologi, dan
kerja sosial. Secara hukum, gerakan kesehatan mental ini mendapatkan
pengukuhannya pada tanggal 3 Juli 1946, yaitu ketika presiden Amerika Serikat
menandatangani ”The National Mental Helath Act.4.
KONSEP SEHAT
v Konsep sehat menurut Para Ahli
o
Parkins
(1938)
Sehat adalah suatu keadaan
seimbang yang dinamis antara bentuk dan
fungsi tubuh dan berbagai
faktor yang berusaha mempengaruhinya.
o
WHO
(1957)
Sehat adalah suatu keadaan dan
kualitas dari organ tubuh yang
berfungsi secara wajar dengan
segala faktor keturunan dan lingkungan
yang dimiliki.
o
WHO
(1974)
Sehat adalah keadaan yang
sempurna dari fisik, mental, sosial, tidak
hanya bebas dari penyakit atau
kelemahan.
o
WHITE
(1977)
Sehat adalah suatu keadaan di
mana seseorang pada waktu diperiksa
tidak mempunyai keluhan ataupun
tidak terdapat tanda-tanda suatu
penyakit dan kelainan.
v Perbedaan Kesehatan Mental Konsep
Barat dan Konsep
Timur
Budaya
barat dan timur ternyata memiliki perbedaan yang mendasar mengenai konsep sehat
dan sakit. Perbedaan ini kemudian mempengaruhi sistem pengobatan di kedua
kebudayaan. Akibatnya,pandangan mengenai kesehatan mental juga berbeda. Namun
dengan kemajuan teknologi dan komunikasi yang membuat relasi antar manusia
semakin mengglobal, pertemuan kebudayaan ini tidak lagi dapat dihindari
sehingga sekarang ini ditemui berbagai cara penanganan kesehatan yang mencoba
mengintegrasikan system pengobatanantara kedua kebudayaan.
Secara
umum konsep barat dan timur mempunyai perbedaan dalam memandang kesehatan mental.
Konsep Timur lebih mementingkan keselarasan, tidak memisahkan mind and body ,
tidak fragmentaris dan tidak analitis, namun kelemahannya sukar ditarik
operasionalisasi dan kejelasan konsepnya, sehingga tidak memudahkan bagi
usaha-usaha prikoterapis seperti yang dikenal pada dunia Ilmiah (barat).
Ada
perbedaan antara model kesehatan Barat dan Kesehatan Timur. Barat lebih
memandang kesehatan bersifat dualistik yaitu mengibaratkan manusia sebagai mesin
yang sangat dipengaruhi oleh dominasi medis. Sedangkan Timur lebih bersifat
holistik, yaitu meliahat sehat lebih secara menyeluruh saing berkaitan sehingga
berpengaruh pada cara penanganan terhadap penyakit. WHO mendefinisikan
kesehatan sebagai: “… keadaan (status) sehat utuh secara fisik, mental
(rohani) dan sosial, dan bukan hanya suatu keadaan yang bebas dari penyakit,
cacat dan kelemahan … “ (Smet, 1994).
KESEHATAN
MODEL BARAT DAN TIMUR
Pada bidang kesehatan terdapat dua model utama, yaitu Model
Barat dan Model Timur. Model Barat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu
model Biomedis atau sering disebut model Medis, model Psikiatris, dan model
Psikosomatis. Model Timur bersifat holistik. (Siswanto, 2007).
-
MODEL
BIOMEDIS (BARAT)
Model Biomedis berakar jauh pada pengobatan tradisional
Yunani. Perkembangan ilmu biologi yang pesat dengan ditemukannya virus dan
bakteri sebagai sumber penyakit menyebabkan model Biomedis berkembang sangat
pesat. Dalam model Biomedis penyakit dan kesehatan semata-mata
dihubungkan dengan tubuh saja (Siswanto, 2007).
-
MODEL
PSIKIATRIS (BARAT)
Model Psikiatris sebenarnya masih
berkaitan dengan model Biomedis. Model ini masih mendasarkan diri pada
pencarian bukti-bukti fisik dari suatu penyakit dan penggunaan treatment secara
fisik, seperti obat-obatan dan pembedahan untuk mengoreksi abnormalitas. Namun
model ini menunjukkan dengan jelas adanya pertentangan-pertentangan di antara
para psikiater yang berbeda dalam menjelaskan gangguan psikosis. Model-model
itu meliputi model organik yang menekankan pada perubahan
fisik dan biokimia di otak, model psikodinamik yang
berkonsentrasi pada faktor perkembangan dan pengalaman, model
behavioral yang mengatakan bahwa psikosis terjadi karena
kemungkinan-kemungkinan lingkungan, dan model sosial yang
menekankan gangguan dalam kerangka performansinya (Helman, 1990 dalamSiswanto,
2007).
-
MODEL
PSIKOSOMATIS (BARAT)
Model Psikosomatis merupakan model
yang muncul kemudian karena adanya ketidakpuasan terhadap model Biomedis. Model
ini muncul setelah jurang antara aspek biologis dan psikologis terjembatani
lewat karya Sigmund Freud tentang ketidaksadaran, Ivan Pavlov
tentang respon terkondisi, dan W.B. Cannon tentang reaksi
serang-kabur. Model Psikosomatis menyatakan bahwa tidak ada penyakit
somatik tanpa disebabkan oleh antesenden emosional dan atau sosial. Sebaliknya,
tidak ada penyakit psikis yang tidak disertai oleh simtom-simtom somatik (Tamm,
1993dalam Siswanto, 2007). Menurut model Psikosomatik, penyakit
berkembang melalui saling keterkaitan yang berkesinambungan antara faktor fisik
dengan faktor mental, yang saling memperkuat satu sama lain melalui jaringan
yang kompleks. Penyembuhan penyakit diasumsikan terjadi melalui cara yang sama.
-
MODEL
HOLISTIK (TIMUR)
Siswanto (2007) mengatakan bahwa dalam dunia kedokteran,
Holisme dapat dibedakan menjadi dua, yaitu dalam arti sempit dan dalam arti
luas. Dalam arti sempit, Holisme melihat organisme manusia sebagai suatu sistem
kehidupan yang semua komponennya saling terkait dan saling tergantung. Dalam
arti luas, Holisme melihat sistem Holisme dalam arti sempit itu merupakan suatu
bagian integral dari sistem-sistem yang lebih luas, di mana organisme
individual berinteraksi terus-menerus dengan lingkungan fisik dan sosialnya,
yaitu terpengaruh oleh lingkungan tetapi juga mempengaruhi dan mengubah
lingkungannya.
4. Memahami dan menjelaskan pendekatan
Kesehatan Mental yang meliputi:
a. Orientasi
Klasik: Pada
umumnya digunakan dalam kedokteran termasuk psikiatri mengartikan sehat sebagai
kondisi tanpa keluhan, baik fisik maupun mental. Orang yang sehat adalah orang
yang tidak mempunyai keluhan tentang keadaan fisik dan mentalnya.Sehat fisik
artinya tidak ada keluhan fisik. Sedangkan sehat mental artinya tidak ada
keluhan mental. Dalam ranah psikologi, pengertian sehat seperti ini banyak
menimbulkan masalah ketika kita berurusan dengan orang-orang yang mengalami
gangguan jiwa yang gejalanya aalah kehilangan kontak dengan realitas.
Orang-orang seperti itu tidak ada keluhan dengan dirinya meski hilang kesadaran
dan tak mampu emngurus dirinya sendiri secara layak. Pengertian sehat mental
dari orientasi klasik kurang memadai untuk digunakan dalam konteks psikologi.
Mengatasi kekurangan itu dikembangkan pengertian baru dari kata
"sehat". Sehat atau tidak adanya seseorang secara mental, belakangan
ini lebih ditentukan oleh kemampuan penyesuaian diri terhadap lingkungan. Orang
yang memiliki kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan dapat digolongkan
sehat mental. Sebaliknya orang yang tidak dapat menyesuaikan diri digolongkan
sebagai tidak sehat mental.
b. Orientasi
Penyesuaian Diri: Dengan
menggunakan orientasi penyesuaian
diri, pengertian sehat mental tidak
dapat dilepaskan dari konteks lingkungan tempat individu hidup. Oleh karena itu
kaitannya dengan standar norma lingkungan terutama norma sosial dan budaya,
kita tidak dapat menentukkan sehat atau tidaknya mental seseorang dari kondisi
kejiwaannya semata. Ukuran sehat mental didasarkan juga pada hubungan antara
individu dengan lingkungannya. Seseorang yang dalam masyarakat tertentu
digolongkan tidak sehat atau sakit mental bisa jadi dianggap senagat sehat
mental dalam masyarakat lain. Artinya batasan sehat atau sehat mental bukan sesuatu
yang absolut. Berkaitan dengan relativitas batasan sehat mental, ada gejala
lain yang juga perlu dipertimbangkan. Kita sering melihat seseorang yang
menampilkan perilaku diterima oleh lingkungan pada satu waktu dan menampilkan
perilaku yang bertentangan dengan norma lingkungan di waktu lain. Misalnya
melakukan agresi yang berakibat kerugian fisik pada orang lain pada saat
suasana hatinya tidak enak tetapi sangat dermawan pada saat suasana hatinya
sedang enak. Dapat dikatakan bahwa orang itu sehat mental pada waktu tertentu
dan tidak sehat mental pada waktu lain. Lalu secara keseluruhan bagaimana kita
menilainya? sehatkah mentalnya? atau sakit? orang itu tidak dapat dinilai
sebagai ssehat mental dan tidak sehat mental sekaligus.
c.
Orientasi Pengembangan Potensi: Seseorang dikatakan mencapai taraf
kesehatan jiwa, bila ia mendapat
kesempatan untuk mengembangkan potensialitasnya menuju kedewasaan, ia bisa
dihargai oleh orang lain dan sirinya sendiri. Dalam psiko-terapi (Perawatan
Jiwa) ternyata yang menjadi pengendalian utama dalam setiap tindakan dan
perbuatan seseorang bukanlah akal pikiran semata-mata, akan tetapi yang lebih
penting dan kadang-kadang sangat menentukkan adalah perasaan. Telah terbukti
bahwa tidak selamanya perasaan tunduk kepada pikiran, bahkan sering terjadi
sebaliknya, pikiran tunduk kepada perasaan. Dapat dikatakan bahwa keharmonisan
antara pikiran dan perasaanlah yang membuat tindakan seseorang tampak matang
dan wajar. Sehingga dapat dikatakan bahwa tujuan Hygiene mental atau
kesehatan mental adalah mencegah timbulnya gangguan mental dan gangguan emosi,
mengurangi atau menyembuhkan penyakit jiwa serta memajukkan jiwa. Menjaga
hubungan sosial akan dapat mewujudkan tercapainya tujuan masyarakat
membawa kepada tercapainya tujuan-tujuan perseorangan sekaligus. Kita tidak
dapat menganggap bahwa kesehatan mental hanya sekedar usaha untuk mencapai
kebahagiaan masyarakat, karena kebahagiaan masyarakat itu tidak akan
menimbulkan kebahagiaan dan kemampuan individu secara otomatis, kecuali jika
kita masukkan dalam pertimbangkan kita, kurang bahagia dan kurang menyentuh
aspek individu, dengan sendirinya akan mengurangi kebahagiaan dan kemampuan
sosial.
Sumber
:
Effendy, Nasrul. Dasar-Dasar Keperawatan Kesehatan
Masyarakat. EGC.
Jakarta.2010.
Yusuf,
Syamsu. 2004. Mental Hygiene Perkembangan Kesehatan Mental dalam Kajian
Psikologi
dan Agama. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.
Burhanuddin,
Yusak. 1999. Kesehatan Mental.Bandung: CV Pustaka Setia.
1. Memahami dan menjelaskan secara
garis besar materi perkuliahan Kesehatan Mental?
·
Menurut Pieper dan Uden (2006),
kesehatan mental adalah suatu keadaan dimana seseorang tidak mengalami perasaan
bersalah terhadap dirinya sendiri, memiliki estimasi yang relistis terhadap
dirinya sendiri dan dapat menerima kekurangan atau kelemahannya, kemampuan
menghadapi masalah-masalah dalam hidupnya, memiliki kepuasan dalam kehidupan
sosialnya, serta memiliki kebahagiaan dalam hidupnya.
·
Notosoedirjo dan Latipun (2005),
mengatakan bahwa terdapat banyak cara dalam mendefenisikan kesehatan mental
(mental hygene) yaitu:
1) Karena
tidak mengalami gangguan mental
2) Tidak
jatuh sakit akibat stessor
3) Sesuai
dengan kapasitasnya dan selaras dengan lingkungannya,
4) Dan
tumbuh dan berkembang secara positif.
2. Memahami dan menjelaskan konsep
sehat berdasarkan dimensi emosi, intelektual, sosial, fisik, spiritual?
·
Pengertian Kesehatan: Secara umum,
pengertian kesehatan yaitu suatu kondisi atau keadaan secara umum seseorang
dari segi semua aspek. Dalam pengertian ini dimaksudkan bahwa kesehatan
merupakan tingkat keefisienan dari fungsional dengan atau tanpa metabolisme
dari suatu organisme dan juga termasuk manusia. Adapula kesehatan dapat
juga diartikan sebagai keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Menurut
Undang-Undang, kesehatan adalah keadaan
sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup
produktif secara sosial dan ekonomis. Pada tahun 1986, WHO, dalam Piagam Ottawa
untuk Promosi Kesehatan, mengatakan bahwa pengertian kesehatan adalah sumber daya bagi kehidupan sehari-hari, bukan
tujuan hidup. Kesehatan adalah konsep positif menekankan sumber daya sosial dan
pribadi, serta kemampuan fisik. Seseorang dikatakan sehat apabila ia memiliki
tubuh jasmaniah yang sehat, tidak berpenyakit, gizi yang baik, psike (mental)
rukhaniyah yang tenang, tidak gelisah, mempunyai kedudukan sosial yang baik,
mempunyai kehidupan dan rumah berlindung, serta dihargai sebagai manusia
(WHO,1984). Di dalam artikel ini saya akan menjelaskan konsep kesehatan
berdasarkan dimensi emosi, intelektual, sosial, fisik, dan spiritual.
a. Dimensi
Emosi: Dimensi
yang meihat dari bagaimana
reaksi emosinya seperti menangis, sedih, bahagia, depresi, optimis. Kesehatan Emosional/Afektif dilihat dari
kemampuan mengenal emosi dan mengekspresikan emosi tersebut secara tepat.
b. Dimensi
Intelektual:
Dimensi yang melihat
bagaimana seseorang berfikir dilihat dari wawasannya, pemahamannya, alasannya,
logika dan pertimbangnnya. Pikiran
sehat tercermin dari cara berpikir atau jalan pikiran.
c. Dimensi
Sosial,: Dimensi
yang melihat dari tingkah
laku manusia dalam kelompok sosial, keluarga
dan sesama lainnya serta penerimaan norma sosial dan pengendalian tingkah laku. Kesehatan Sosial dapat dilihat dari
kemampuan untuk membuat dan mempertahankan hubungan dengan orang lain, perilaku
kehidupan dalam masyarakat.
d.
Dimensi
Fisik: Merupakan
dimensi yang dapat ditelaah secara langsung atau
memiliki dimensi yang paling nyata. Kesehatan fisik dapat dilihat dari kemampuan mekanistik dari tubuh. Kesehatan fisik terwujud apabila
sesorang tidak merasa dan mengeluh sakit atau tidak adanya keluhan dan memang
secara objektif tidak tampak sakit. Semua organ tubuh berfungsi normal atau
tidak mengalami gangguan. Sehat jasmani
merupakan komponen penting dalam arti sehat seutuhnya, berupa sosok manusia
yang berpenampilan kulit bersih, mata bersinar, rambut tersisir rapi,
berpakaian rapi, berotot, tidak gemuk, nafas tidak bau, selera makan baik,
tidur nyenyak, gesit dan seluruh fungsi fisiologi tubuh berjalan normal.
e.
Dimensi Spiritual dilihat dari kepercayaan dan praktek keagamaan. Karena, kesehatan
spiritual dapat dilihat dari kemampuan seseorang dalam mencapai kedamaian hati.
Spiritual sehat tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur, pujian, kepercayaan dan sebagainya terhadap sesuatu di luar alam fana ini, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa misalnya dilihat dari praktik keagamaan seseorang. Dengan perkataan lain, sehat spiritual adalah keadaan dimana seseorang menjalankan ibadah dan semua aturan-aturan agama yang dianutnya.
Spiritual sehat tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur, pujian, kepercayaan dan sebagainya terhadap sesuatu di luar alam fana ini, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa misalnya dilihat dari praktik keagamaan seseorang. Dengan perkataan lain, sehat spiritual adalah keadaan dimana seseorang menjalankan ibadah dan semua aturan-aturan agama yang dianutnya.
3. Memahami dan menjelaskan sejarah
perkembangan/ timbulnya gerakan kesehatan mental?
Kesehatan
Mental berawal dari fenomena atau realita yang terjadi pada diri manusia sejak
zaman pra Ilmiah. Menurut Marx Webeer, manusia memasuki zaman atau era sejarah
ketika mentalitas dari individu-individu itu sendiri telah tertata dengan rapi
dan didukung dari segala aspek lingkungan yang memungkinkan. Oleh karena itu,
manusia dapat menghasilkan kebudayaan untuk pertama kalinya sebagai penanda
adanya era baru (sejarah). Hal itu berarti tanpa kesehatan mental yang tertata
dengan rapi, maka tidak akan ada kebudayaan yang lahir. Tanpa kebudayaan
tersebut, maka manusia pun tidak akan pernah memasuki era ini. Kesehatan mental
adalah kunci dari mobilitas personal dan sosial manusia.
PERKEMBANGAN
KESEHATAN MENTAL PRA ILMIAH
1. Masa Animisme: Sejak zaman dulu,
sikap terhadap gangguan kepribadian atau mental telah muncul dalam konsep
primitif animisme. Ada kepercayaan bahwa dunia ini diawasi atau dikuasai oleh
roh-roh atau dewa-dewa. Orang primitif percaya bahwa angin bertiup, ombak
mengalun, batu berguling, dan pohon tumbuh karena pengaruh roh yang tinggal
dalam benda-benda tersebut. Orang Yunani percaya bahwa gangguan mental terjadi
karena dewa marah dan membawa pergi jiwanya. Untuk menghindari kemarahannya,
maka mereka mengadakan perjamuan pesta (sesaji) dengan mantra dari korban yang
mereka persembahkan. Praktik-praktik semacam tersebut berlangsung mulai dari
abad 7-5 SM.
2. Masa Naturalisme: Setelah kemunculan
naturalisme, maka praktik semacam itupun kian berkurang, walaupun kepercayaan
tentang penyakit mental tersebut berasal dari roh-roh jahat tetap bertahan
sampai abad pertengahan. Perubahan sikap terhadap tradisi animisme terjadi pada
zaman Hipocrates (460-467). Dia dan pengikutnya mengembangkan pandangan
revolusioner dalam pengobatan, yaitu dengan menggunakan pendekatan
”Naturalisme”. Aliran ini berpendapat bahwa gangguan mentalatau fisik merupakan
akibat dari alam. Hipocrates menolak pengaruh roh, dewa, setan atau hantu
sebagai penyebab sakit. Dia menyatakan: ”Jika Anda memotong batok kepala, maka
Anda akan menemukan otak yang basah, dan memicu bau yang amis, tetapi Anda
tidak akan melihat roh, dewa atau hantu yang melukai badan Anda.” Ide
naturalistik ini kemudian dikembangkan oleh Galen, seorang tabib dalam lapangan
pekerjaan pemeriksaan atau pembedahan hewan. Dalam perkembangan selanjutnya,
pendekatan naturalistik ini tidak dipergunakan lagi di kalangan orang-orang
Kristen.
PERKEMBANGAN
KESEHATAN MENTAL ERA MODERN
Perubahan yang sangat berarti dalam sikap dan pengobatan
gangguan mental, yaitu dari animisme (irrasional) dan tradisional ke sikap dan
cara yang rasional (ilmiah), terjadi pada saat berkembangnya psikologi abnormal
dan psikiatri di Amerika Serikat, yaitu pada tahun 1783. Ketika itu, Benyamin
Rush (1745-1813) menjadi anggota staff medis di rumah sakit Pensylvania. Di
rumah sakit ini, ada 24 pasien yang dianggap sebagai lunatics(orang-orang gila
atau sakit ingatan). Pada waktu itu, sedikit sekali pengetahuan tentang
penyakit kegilaan tersebut, dan kurang mengetahui cara menyembuhkannya. Sebagai
akibatnya, pasien-pasien tersebut dikurung dalam sel yang kurang sekali alat
ventilasinya, dan mereka sekali-sekali diguyur dengan air. Rush melakukan usaha
yang sangat berguna untuk memahami orang-orang yang menderita gangguan mental
tersebut. Cara yang ditempuhnya adalah dengan melalui penulisan artikel-artikel
dalam koran, ceramah, dan pertemuan-pertemuan lainnya. Akhirnya, setelah usaha
itu dilakukan (selama 13tahun), yaitu pada tahun 1796, di rumah mental, ruangan
ini dibedakan untuk pasien wanita dan pria. Secara berkesenimbungan, Rush
mengadakan pengobatan kepada para pasien dengan memberikan dorongan (motivasi)
untuk mau bekerja, rekreasi, dan mencari kesenangan. Perkembangan psikologi
abnormal dan pskiatri ini memberikan pengaruh kepada lahirnya ”mental hygiene”
yang berkembang menjadi suatu ”Body of Knowledge” beserta gerakan-gerakan yang
terorganisir. Perkembangan kesehatan mental dipengaruhi oleh gagasan, pemikiran
dan inspirasi para ahli, terutama dari dua tokoh perintis, yaitu Dorothea Lynde
Dixdan Clifford Whittingham Beers. Kedua orang ini banyak mendedikasikan
hidupnya dalam bidang pencegahan gangguan mental dan pertolongan bagi
orang-orang miskin dan lemah. Dorthea Lynde Dix lahir pada tahun 1802 dan
meninggal dunia tanggal 17 Juli 1887. Dia adalah seorang guru sekolah di
Massachussets, yang menaruh perhatian terhadap orang-orang yang mengalami
gangguan mental. Sebagian perintis (pioneer), selama 40 tahun, dia berjuang
untuk memberikan pengorbanan terhadap orang-orang gila secara lebih manusiawi.
Usahanya, mula-mula diarahkan pada para pasien mental di rumah sakit. Kemudian
diperluas kepada para penderita gangguan mental yang dikurung di rumah-rumah
penjara. Pekerjaan Dix ini merupakan faktor penting dalam membangun kesadaran
masyarakat umum untuk memperhatikan kebutuhan para penderita gangguan mental.
Berkat usahanya yang tak kenal lelah, di Amerika Serikat didirikan 32 rumah
sakit jiwa. Dia layak mendapat pujian sebagai salah seorang wanita besar di
abad ke-19. Pada tahun 1909, gerakan kesehatan mental secara formal mulai
muncul. Selama dekade 1900-1909, beberapa organisasi kesehatan mental telah
didirikan, seperti American Social Hygiene Associatin(ASHA), dan American
Federation for Sex Hygiene. Perkembangan gerakan-gerakan di bidang
kesehatanmental ini tidak lepas dari jasa Clifford Whittingham Beers (1876-
1943). Bahkan, karena jasa-jasanya itulah, dia dinobatkan sebagai ”The Founder
Of The Mental Hygiene Movement”. Dedikasi Beers yang begitu kuat dalam
kesehatan mental dipengaruhi oleh pengalamannya sebagai pasien di beberapa
rumah sakit jiwa yang berbeda. Selama di rumah sakit, dia mendapatkan pelayanan
atau pengobatan yang keras dan kasar (kurang manusiawi). Kondisi seperti ini
terjadi karena pada masa itu belum ada perhatian terhadap masalah gangguan
mental, apalagi pengobatannya. Setelah dua tahun mendapatkan perawatan di rumah
sakit, dia mulai memperbaiki dirinya. Selama tahun terakhirnya sebagai pasien,
dia mulai mengembangkan gagasan untuk membuat gerakan untuk melindungi
orang-orang yang mengalami gangguan mental atau orang gila (insane). Setelah
dia kembali dalam kehidupan yang normal (sembuh dari penyakitnya), pada tahun
1908, dia menindaklanjuti gagasannya dengan mempublikasikan tulisan
autobiografinya yang berjudul A Mind That Found It Self. Beers meyakini bahwa
penyakit atau gangguan mental dapat dicegah atau disembuhkan. Dia merancang
suatu program yang bersifat nasional, yang tujuannya adalah:
1.
Mereformasi
program perawatan dan pengobatan terhadap pengidap penyakit
jiwa;
2.
Melakukan
penyebaran informasi kepada masyarakat agar mereka memiliki pemahaman dan
sikap yang positif terhadap para pasien yang mengidap gangguan atau penyakit
jiwa;
3.
Mendorong
dilakukannya berbagai penelitian tentang kasus-kasus dan obat gangguan mental;
4.
Mengembangkan
praktik-praktik untuk mencegah gangguan mental.
Begitu tertariknya terhadap gagasan Beers, Adolf Mayer
menyarankan untuk menamai gerakan itu dengan nama ”Mental Hygiene”. Dengan
demikian, yangmempopulerkan istilah ”Mental Hygiene” adalah Mayer. Belum lama
setelah buku itu diterbitkan pada tahun 1908, sebuah organisasi pertama didirikan,
bernama ”Connectievt Society For Mental Hygiene”.Satu tahu kemudian,
didirikanlah ”National Commite Society For Mental Hygiene”, dan Beers diangkat
menjadi sekretarisnya. Organisasi ini bertujuan untuk melindungi kesehatan
mental masyarakat, menyusun standard perawatan para pengidap gangguan mental,
meningkatkan studi tentang gangguan mental dalam segala bentuknya dan berbagi
aspek yang terkait dengannya, menyebarkan pengetahuan tentang kasus gangguan
mental, pencegahan dan penobatannya dan mengkoordinasikan lembaga-lembaga
perawatan yang ada. Terkait dengan perkembangan gerakan kesehatan mental ini,
Deutsch mengemukakan bahwa pada masanya dan pasca Perang Dunia I, gerakan
kesehatan mental ini mengkonsentarsikan programnya untuk membantu mereka yang
mengalami masalah serius. Setelah perang usai, gerakan kesehatan mental semakin
berkembang dan cakupan garapannya meliputi berbagai bidang kegiatan, seperti
pendidikan, kesehatan masyarakat, pengobatan umum, industri, kriminologi, dan
kerja sosial. Secara hukum, gerakan kesehatan mental ini mendapatkan
pengukuhannya pada tanggal 3 Juli 1946, yaitu ketika presiden Amerika Serikat
menandatangani ”The National Mental Helath Act.4.
KONSEP SEHAT
v Konsep sehat menurut Para Ahli
o
Parkins
(1938)
Sehat adalah suatu keadaan
seimbang yang dinamis antara bentuk dan
fungsi tubuh dan berbagai
faktor yang berusaha mempengaruhinya.
o
WHO
(1957)
Sehat adalah suatu keadaan dan
kualitas dari organ tubuh yang
berfungsi secara wajar dengan
segala faktor keturunan dan lingkungan
yang dimiliki.
o
WHO
(1974)
Sehat adalah keadaan yang
sempurna dari fisik, mental, sosial, tidak
hanya bebas dari penyakit atau
kelemahan.
o
WHITE
(1977)
Sehat adalah suatu keadaan di
mana seseorang pada waktu diperiksa
tidak mempunyai keluhan ataupun
tidak terdapat tanda-tanda suatu
penyakit dan kelainan.
v Perbedaan Kesehatan Mental Konsep
Barat dan Konsep
Timur
Budaya
barat dan timur ternyata memiliki perbedaan yang mendasar mengenai konsep sehat
dan sakit. Perbedaan ini kemudian mempengaruhi sistem pengobatan di kedua
kebudayaan. Akibatnya,pandangan mengenai kesehatan mental juga berbeda. Namun
dengan kemajuan teknologi dan komunikasi yang membuat relasi antar manusia
semakin mengglobal, pertemuan kebudayaan ini tidak lagi dapat dihindari
sehingga sekarang ini ditemui berbagai cara penanganan kesehatan yang mencoba
mengintegrasikan system pengobatanantara kedua kebudayaan.
Secara
umum konsep barat dan timur mempunyai perbedaan dalam memandang kesehatan mental.
Konsep Timur lebih mementingkan keselarasan, tidak memisahkan mind and body ,
tidak fragmentaris dan tidak analitis, namun kelemahannya sukar ditarik
operasionalisasi dan kejelasan konsepnya, sehingga tidak memudahkan bagi
usaha-usaha prikoterapis seperti yang dikenal pada dunia Ilmiah (barat).
Ada
perbedaan antara model kesehatan Barat dan Kesehatan Timur. Barat lebih
memandang kesehatan bersifat dualistik yaitu mengibaratkan manusia sebagai mesin
yang sangat dipengaruhi oleh dominasi medis. Sedangkan Timur lebih bersifat
holistik, yaitu meliahat sehat lebih secara menyeluruh saing berkaitan sehingga
berpengaruh pada cara penanganan terhadap penyakit. WHO mendefinisikan
kesehatan sebagai: “… keadaan (status) sehat utuh secara fisik, mental
(rohani) dan sosial, dan bukan hanya suatu keadaan yang bebas dari penyakit,
cacat dan kelemahan … “ (Smet, 1994).
KESEHATAN
MODEL BARAT DAN TIMUR
Pada bidang kesehatan terdapat dua model utama, yaitu Model
Barat dan Model Timur. Model Barat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu
model Biomedis atau sering disebut model Medis, model Psikiatris, dan model
Psikosomatis. Model Timur bersifat holistik. (Siswanto, 2007).
-
MODEL
BIOMEDIS (BARAT)
Model Biomedis berakar jauh pada pengobatan tradisional
Yunani. Perkembangan ilmu biologi yang pesat dengan ditemukannya virus dan
bakteri sebagai sumber penyakit menyebabkan model Biomedis berkembang sangat
pesat. Dalam model Biomedis penyakit dan kesehatan semata-mata
dihubungkan dengan tubuh saja (Siswanto, 2007).
-
MODEL
PSIKIATRIS (BARAT)
Model Psikiatris sebenarnya masih
berkaitan dengan model Biomedis. Model ini masih mendasarkan diri pada
pencarian bukti-bukti fisik dari suatu penyakit dan penggunaan treatment secara
fisik, seperti obat-obatan dan pembedahan untuk mengoreksi abnormalitas. Namun
model ini menunjukkan dengan jelas adanya pertentangan-pertentangan di antara
para psikiater yang berbeda dalam menjelaskan gangguan psikosis. Model-model
itu meliputi model organik yang menekankan pada perubahan
fisik dan biokimia di otak, model psikodinamik yang
berkonsentrasi pada faktor perkembangan dan pengalaman, model
behavioral yang mengatakan bahwa psikosis terjadi karena
kemungkinan-kemungkinan lingkungan, dan model sosial yang
menekankan gangguan dalam kerangka performansinya (Helman, 1990 dalamSiswanto,
2007).
-
MODEL
PSIKOSOMATIS (BARAT)
Model Psikosomatis merupakan model
yang muncul kemudian karena adanya ketidakpuasan terhadap model Biomedis. Model
ini muncul setelah jurang antara aspek biologis dan psikologis terjembatani
lewat karya Sigmund Freud tentang ketidaksadaran, Ivan Pavlov
tentang respon terkondisi, dan W.B. Cannon tentang reaksi
serang-kabur. Model Psikosomatis menyatakan bahwa tidak ada penyakit
somatik tanpa disebabkan oleh antesenden emosional dan atau sosial. Sebaliknya,
tidak ada penyakit psikis yang tidak disertai oleh simtom-simtom somatik (Tamm,
1993dalam Siswanto, 2007). Menurut model Psikosomatik, penyakit
berkembang melalui saling keterkaitan yang berkesinambungan antara faktor fisik
dengan faktor mental, yang saling memperkuat satu sama lain melalui jaringan
yang kompleks. Penyembuhan penyakit diasumsikan terjadi melalui cara yang sama.
-
MODEL
HOLISTIK (TIMUR)
Siswanto (2007) mengatakan bahwa dalam dunia kedokteran,
Holisme dapat dibedakan menjadi dua, yaitu dalam arti sempit dan dalam arti
luas. Dalam arti sempit, Holisme melihat organisme manusia sebagai suatu sistem
kehidupan yang semua komponennya saling terkait dan saling tergantung. Dalam
arti luas, Holisme melihat sistem Holisme dalam arti sempit itu merupakan suatu
bagian integral dari sistem-sistem yang lebih luas, di mana organisme
individual berinteraksi terus-menerus dengan lingkungan fisik dan sosialnya,
yaitu terpengaruh oleh lingkungan tetapi juga mempengaruhi dan mengubah
lingkungannya.
4. Memahami dan menjelaskan pendekatan
Kesehatan Mental yang meliputi:
a. Orientasi
Klasik: Pada
umumnya digunakan dalam kedokteran termasuk psikiatri mengartikan sehat sebagai
kondisi tanpa keluhan, baik fisik maupun mental. Orang yang sehat adalah orang
yang tidak mempunyai keluhan tentang keadaan fisik dan mentalnya.Sehat fisik
artinya tidak ada keluhan fisik. Sedangkan sehat mental artinya tidak ada
keluhan mental. Dalam ranah psikologi, pengertian sehat seperti ini banyak
menimbulkan masalah ketika kita berurusan dengan orang-orang yang mengalami
gangguan jiwa yang gejalanya aalah kehilangan kontak dengan realitas.
Orang-orang seperti itu tidak ada keluhan dengan dirinya meski hilang kesadaran
dan tak mampu emngurus dirinya sendiri secara layak. Pengertian sehat mental
dari orientasi klasik kurang memadai untuk digunakan dalam konteks psikologi.
Mengatasi kekurangan itu dikembangkan pengertian baru dari kata
"sehat". Sehat atau tidak adanya seseorang secara mental, belakangan
ini lebih ditentukan oleh kemampuan penyesuaian diri terhadap lingkungan. Orang
yang memiliki kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan dapat digolongkan
sehat mental. Sebaliknya orang yang tidak dapat menyesuaikan diri digolongkan
sebagai tidak sehat mental.
b. Orientasi
Penyesuaian Diri: Dengan
menggunakan orientasi penyesuaian
diri, pengertian sehat mental tidak
dapat dilepaskan dari konteks lingkungan tempat individu hidup. Oleh karena itu
kaitannya dengan standar norma lingkungan terutama norma sosial dan budaya,
kita tidak dapat menentukkan sehat atau tidaknya mental seseorang dari kondisi
kejiwaannya semata. Ukuran sehat mental didasarkan juga pada hubungan antara
individu dengan lingkungannya. Seseorang yang dalam masyarakat tertentu
digolongkan tidak sehat atau sakit mental bisa jadi dianggap senagat sehat
mental dalam masyarakat lain. Artinya batasan sehat atau sehat mental bukan sesuatu
yang absolut. Berkaitan dengan relativitas batasan sehat mental, ada gejala
lain yang juga perlu dipertimbangkan. Kita sering melihat seseorang yang
menampilkan perilaku diterima oleh lingkungan pada satu waktu dan menampilkan
perilaku yang bertentangan dengan norma lingkungan di waktu lain. Misalnya
melakukan agresi yang berakibat kerugian fisik pada orang lain pada saat
suasana hatinya tidak enak tetapi sangat dermawan pada saat suasana hatinya
sedang enak. Dapat dikatakan bahwa orang itu sehat mental pada waktu tertentu
dan tidak sehat mental pada waktu lain. Lalu secara keseluruhan bagaimana kita
menilainya? sehatkah mentalnya? atau sakit? orang itu tidak dapat dinilai
sebagai ssehat mental dan tidak sehat mental sekaligus.
c.
Orientasi Pengembangan Potensi: Seseorang dikatakan mencapai taraf
kesehatan jiwa, bila ia mendapat
kesempatan untuk mengembangkan potensialitasnya menuju kedewasaan, ia bisa
dihargai oleh orang lain dan sirinya sendiri. Dalam psiko-terapi (Perawatan
Jiwa) ternyata yang menjadi pengendalian utama dalam setiap tindakan dan
perbuatan seseorang bukanlah akal pikiran semata-mata, akan tetapi yang lebih
penting dan kadang-kadang sangat menentukkan adalah perasaan. Telah terbukti
bahwa tidak selamanya perasaan tunduk kepada pikiran, bahkan sering terjadi
sebaliknya, pikiran tunduk kepada perasaan. Dapat dikatakan bahwa keharmonisan
antara pikiran dan perasaanlah yang membuat tindakan seseorang tampak matang
dan wajar. Sehingga dapat dikatakan bahwa tujuan Hygiene mental atau
kesehatan mental adalah mencegah timbulnya gangguan mental dan gangguan emosi,
mengurangi atau menyembuhkan penyakit jiwa serta memajukkan jiwa. Menjaga
hubungan sosial akan dapat mewujudkan tercapainya tujuan masyarakat
membawa kepada tercapainya tujuan-tujuan perseorangan sekaligus. Kita tidak
dapat menganggap bahwa kesehatan mental hanya sekedar usaha untuk mencapai
kebahagiaan masyarakat, karena kebahagiaan masyarakat itu tidak akan
menimbulkan kebahagiaan dan kemampuan individu secara otomatis, kecuali jika
kita masukkan dalam pertimbangkan kita, kurang bahagia dan kurang menyentuh
aspek individu, dengan sendirinya akan mengurangi kebahagiaan dan kemampuan
sosial.
Sumber
:
Effendy, Nasrul. Dasar-Dasar Keperawatan Kesehatan
Masyarakat. EGC.
Jakarta.2010.
Yusuf,
Syamsu. 2004. Mental Hygiene Perkembangan Kesehatan Mental dalam Kajian
Psikologi
dan Agama. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.
Burhanuddin,
Yusak. 1999. Kesehatan Mental.Bandung: CV Pustaka Setia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar